Juli 24, 2024

Industri Tekstil Indonesia, Apakah di Masa Depan Masih Ada?

6 min read
Industri Tekstil Indonesia

“Besar pasak daripada tiang”. Peribahasa berikut lumayan melukiskan kondisiĀ industri tekstilĀ di Indonesia selagi ini.

Pasalnya, pengeluaran pelaku industri tak bisa ditutupi oleh pendapatan lantaran orderan yang sepi. Imbasnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) pun tak terhindarkan. Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mencatat ada kira-kira 13.800 buruh tekstil terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) selama Januari 2024 sampai awal Juni 2024. Angka itu belum juga puluhan kasus PHK dari perusahaan-perusahaan kecil.

Presiden KSPN Ristadi menuturkan pemecatan tersebar di beberapa wilayah industri tekstil. Misalnya, pabrik punya PT Alenatex yang tutup di Bandung, Jawa Barat, terhadap beberapa selagi lalu.

Perusahaan yang berlokasi di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung itu awalannya punyai kira-kira 2.000 karyawan. Namun, karena situasi keuangan yang berdarah-darah, perusahaan memangkas pekerja sampai tersisa 700 orang.

Meski sudah melakukan PHK besar-besaran, PT Alenatex tak bisa bertahan. Mereka selanjutnya gulung tikar. Ristadi menyebut data PHK yang berjalan di Jawa Tengah lebih-lebih lebih masif. Ia mencatat pabrik-pabrik yang terdampak, seumpama di grup PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex.

Ia mencontohkan tiga perusahaan di bawah grup Sritex yang mem-PHK sejumlah karyawannya. Tiga perusahaan itu yaitu PT Sinar Pantja Djaja di Semarang, PT Bitratex di Kabupaten Semarang, dan PT Djohartex yang ada di Magelang.

Data paling baru yang dimiliki KSPN adalah PHK pabrik tekstil di wilayah Pantura. Ini menimpa buruh yang bekerja di PT Dupantex di Pekalongan, Jawa Tengah.

“Itu kurang lebih pekerjanya 700. Sebelumnya, juga mirip pekerjanya ribuan. Karena gak kuat sisa 700, selanjutnya ditutup. Kalau gak salah, perusahaan mengumumkan tutup di Juni (2024),” paham Ristadi.

Secara garis besar, ia menangkap biang kerok PHK massal ini adalah orderan yang lesu. Ristadi menyebut tingkat pesanan yang masuk ke sejumlah pabrik tekstil di Indonesia tetap menurun.

Presiden KSPN ini menyebut banyak juga perusahaan yang merumahkan karyawannya selagi tak ada order masuk. Pasalnya, entrepreneur tekstil berikut tak punyai modal jikalau perlu mem-PHK buruh.

Baca juga:

Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Agar Terhindar dari Penyakit

Profil Muhadkly Acho, Komika Tanjung Priok Dalang Agak Laen

“Mau PHK, dia (pengusaha) gak ada uang, mempekerjakan ndak ada pekerjaan,” ungkap Ristadi soal situasi di lapangan.

“Perusahaan ada order jalan, enggak, tutup lagi. ‘Senin-Kamis’ lah kira-kira. Kalau lama-lama begini cash flow perusahaan gak akan kuat dan tutup juga.”.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat sesungguhnya industri tekstil dan produk turunannya kinerjanya menurun di dalam beberapa th. terakhir. Kondisi ini diperparah bersama hantaman pandemi covid-19.

Adapun alasan kenapa lantas energi saing dari industri tekstil dan baju jadi ataupun produk turunannya melemah disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, tingginya penetrasi barang impor ke pasar domestik. Rendy mengatakan di dalam lima sampai sepuluh th. paling akhir impor produk tekstil dan baju jadi ke Indonesia lumayan besar. Salah satu negara yang masif melakukan ekspor ke Indonesia adalah China.

Di selagi yang sejalan China punyai keistimewaan komparatif yang relatif lebih baik terlebih jikalau dilihat dari sisi bahan baku, ongkos tenaga kerja, dan kemajuan teknologi. Keunggulan berikut juga dapat dukungan oleh besarnya bantuan struktural pemerintah agar industri tekstil dan produk baju jadi itu maju di sana. Rendy menyebut tidak benar satu bentuk bantuan yang diberikan oleh pemerintah China seumpama memberikan subsidi bunga dan pajak terhadap industri tekstil yang belum terisi ekspor.

“Dampak dari paduan situasi di atas selanjutnya menekan energi saing dari produk industri tekstil Indonesia dibandingkan bersama negara-negara lain atau di dalam konteks ini Cina,” ucap Rendy.

Alasan kedua, kebijakan perdagangan Indonesia condong kurang menguntungkan produsen domestik juga di dalamnya industri tekstil. Rendy menilai beberapa kebijakan pemerintah seperti seumpama penandatanganan perjanjian kawasan perdagangan besar (free trade area), selanjutnya berdampak terhadap membludaknya produk-produk tekstil ke Indonesia.

Di satu sisi, kemudahan impor yang diberikan pemerintah untuk membantu Industri Kecil Menengah (IKM), jadi jadi bumerang yang mengancam industri di dalam negeri.

“Sebagai misal kemudahan impor tekstil dan produk tekstil (TPT) lewat Kawasan Berikat seperti pusat logistik Berikat seringkali disalahgunakan oleh importir agar produk impor membanjiri pasar domestik,” paham Rendy.

Maraknya PHK imbas lesunya tekstil akan berdapmpak terhadap ekonmi di dalam negeri. Rendy mengatakan tekstil merupakan tidak benar satu industri strategis. Industri berikut selama ini bisa berkontrisbusi terhadap perekonomian lewat sumbangan terhadap produk domestik bruto ( PDB ) nasional dan juga ekspor.

Sehingga, kala kinerja industri ini menurun, harapan untuk mendorong perkembangan industri TPT itu relatif akan berkurang. Sementara untuk pengangguran, hal ini tidak boleh disepelekan. Maklum, industri tekstil sifatnya padat karya. Karenanya, jikalau industri itu terganggu, potensi angka pengguran akan tetap meningkat.

“Kami belum melakukan simulasi penghitungan bagaimana pengaruh PHK ini akan memberikan peningkatan terhadap pengangguran,” kata Rendy.

“Namun yang perlu diantisipasi adalah kala pengaruh PHK ini berjalan di sedang potensi kenaikan atau tetap relatif tingginya harga untuk beberapa keperluan pangan,” imbuhnya.

Menurutnya, paduan situasi berikut tentu tidak akan terlalu baik. Terutama bagi para pekerja yang terkena PHK.

“Mereka sudah tentu akan tergerus energi belinya atau lebih-lebih hilang dari belinya kala situasi itu terjadi,” ucap Rendy.

Jurus Melawan Badai di Industri Tekstil

Agar badai yang menerpa industri tekstil itu tak berlanjut dan lantas reda, Rendy menyebut beberapa hal yang perlu dilakukan. Salah satunya, pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri manufaktur baik dari segi modal, energi, logistik, dan riset juga pengembangan.

Ia mencontohnya ongkos energi di di dalam negeri itu relatif lebih tinggi jikalau dibandingkan bersama negara-negara kompetitor industri. Tentu ini akan ikut berdampak terhadap tingginya ongkos mengolah untuk beberapa produk manufaktur juga di dalamnya industri tekstil. Selain itu, pemerintah juga perlu menyaksikan kembali keputusan perdagangan yang sudah berlaku.

“Melihat perizinan impor bagi importir lewat pusat logistik berikut lantas Free Trade Zone merupakan hal yang bisa dikerjakan pemerintah di dalam konteks evaluasi tersebut,” tutur Rendy.

Tak hanya itu, opsi untuk memperluas pasar untuk industri tekstil dan baju jadi ke negara-negara yang punyai potensi pasar yang lumayan baik perlu didorong secara bertahap.

“Saya kira beberapa negara di kawasan Afrika terlebih Afrika Utara lantas Eropa itu tetap amat mungkin untuk dibuka diskusi berkenaan pelebaran pasar tersebut,” ujarnya.

Setali tiga uang, Direktur Institute for Demographic plus Poverty Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan jejatuhan pabrik-pabrik tekstil yang masif merupakan puncak dari persoalan industri manufaktur di dalam satu dekade terakhir, yaitu energi saing yang semakin melemah.

“Faktor utama kejatuhan industri tekstil sesungguhnya adalah permintaan yang semakin melemah, tidak hanya dari pasar ekspor tetapi juga dari pasar domestik,” katanya.

Yusuf berpendapat lemahnya permintaan pasar sebabkan banyak pabrik beroperasi jauh dibawah kapasitasnya, agar ongkos mengolah jadi terlalu tidak efisien.

Di selagi yang sama, industri tekstil di pasar ekspor perlu hadapi kerasnya persaingan dari produsen tekstil asing, terlebih dari China, Vietnam, dan Bangladesh. Harga produk dari negara-negara juga terlalu kompetitif.

Hal ini diperburuk oleh lemahnya pengawasan impor agar penyelundupan barang juga tekstil jadi marak. Oleh karena itu, proteksi terhadap industri domestik lewat hambatan tarif dan non tarif tidak efektif.

Akibatnya, kata Yusuf, pasar domestik industri tekstil tergerus signifikan. “Daya saing industri tekstil kita menurun mencolok baik di pasar ekspor maupun domestik,” ujarnya.

Ia mengatakan situasi industri tekstil ini sesungguhnya melukiskan situasi sektor industri manufaktur RI secara keseluruhan. Padahal, untuk melipatgandakan pendapatan penduduk menuju status negara maju terhadap 2045, Indonesia perlu transformasi ekonomi ke sektor bernilai jadi tinggi, terlebih industri manufaktur.

Sayangnya, sampai kini belum ada cara yang lumayan memastikan ke arah pergantian susunan perekonomian.

“Untuk meraih Indonesia emas terhadap 2045 kita perlu industrialisasi yang masif, bersama kontribusi industri manufaktur terhadap PDB setidaknya di kisaran 30 persen,” tutur Yusuf.

Harapan itu nyatanya tetap jauh. Sebab, situasi selagi ini justru sebaliknya, yaitu mengalami deindustrialisasi. Yusuf mengatakan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB justru tetap menurun dari kisaran 27 % terhadap 2005 jadi hanya di kisaran 18 % terhadap 2022.

Menurutnya, deindustrialisasi dini ini ditandai melemahnya energi saing industri manufaktur terlebih industri padat karya. Sehingga, pasca era 2000-an investasi perlahan jadi meninggalkan industri padat karya, kecenderungan ini menguat di dalam 10 th. terakhir.

Hal ini yang mengatakan mengapa investasi kini semakin lemah menyerap tenaga kerja. Yusuf berpendapat cara simpel agar industri tekstil RI bisa bertahan adalah seperti yang dikerjakan UU Cipta Kerja. Yaitu, menciptakan rezim upah buruh murah dan menekan kenaikan UMP agar ongkos mengolah pabrik lebih kompetitif.

Namun, cara ini tentu terlalu tidak manusiawi karena mengorbankan buruh yang justru terlalu perlu kenaikan upah untuk meningkatkan kesejahteraannya yang rendah.

Oleh karena itu, cara yang tersisa adalah merawat pasar domestik dari penyelundupan dan serbuan produk impor yang harganya terlalu murah.

“Dengan menghapus penyelundupan dan menerapkan hambatan tarif akan merawat pasar domestik yang besar agar permintaan untuk industri tekstil selamanya terjaga,” kata Yusuf.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.
error: Content is protected !!