Mei 23, 2024

Babak Baru Kesusahan Hidup Pengungsi Gaza di Mesir: Tak Bisa Sekolah dan Berprofesi

2 min read

Selama tujuh bulan terakhir, perang Israel Vs Hamas terjadi. Hal ini mengakibatkan beberapa besar warga Palestina di Gaza berupaya mati-matian untuk menyelamatkan diri.

Lebih dari 34 ribu warga Palestina, beberapa besar perempuan dan si kecil-si kecil, tewas imbas serangan militer Israel semenjak 7 Oktober 2023. Sementara bagi yang selamat, hidup para pengungsi Gaza penuh keterbatasan.

Di sisi lain, bagi mereka yang sanggup dan lebih beruntung hidupnya, berupaya mencari perlindungan dengan via perbatasan Mesir. Meski tidak ada angka pasti yang diketahui, ribuan warga Palestina telah melarikan diri ke Mesir semenjak perang diawali.

Dikabarkan Middle East Eye, Senin (13/5/2024), banyak dari mereka yang dapat pindah ke negara lain, melainkan mereka yang tidak memiliki visa untuk melanjutkan perjalanan tetap tinggal di Mesir.

Mayoritas warga Palestina dari Gaza pergi ke sana untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara yang lainnya adalah pelajar, berkewarganegaraan ganda Palestina-Mesir, dan penduduk yang sanggup membayar uang suap senilai ribuan dolar supaya dapat keluar dari wilayah yang terkepung.

Namun, berada di Mesir tidak berarti penderitaan mereka berakhir. Bagi kebanyakan dari mereka mengalami babak spaceman game sulit baru dalam hidup. Situasi mereka juga kian terasa sulit dikala tidak ada bantuan dari pemerintah Mesir maupun organisasi internasional.

Tak Bisa Sekolah dan Berprofesi

Salah satunya adalah Hamid (bukan nama sesungguhnya) yang adalah ayah tiga si kecil berusia 42 tahun. Dia berhasil melarikan diri dari Gaza ke Mesir karena sanggup membayar \\\”tarif koordinasi\\\” sebesar USD 17.500 atau sekitar Rp280 juta.

Dia berhasil masuk ke Mesir setelah dibantu oleh agen perjalanan Ya Hala, sebuah perusahaan yang memiliki hubungan dengan institusi keamanan Mesir, yang mengatur monopoli tepat sasaran atas izin bagi penduduk Gaza.

Persyaratan visa sementara yang dimilikinya berarti dia tidak dapat mengajukan permohonan status tinggal atau mendaftar sebagai pengungsi.

Hasilnya, dia tidak dapat meregistrasikan si kecil-anaknya ke sekolah di Mesir dan dia sendiri tidak dapat bekerja.

\\\”Situasi kehidupan kami sangat buruk,\\\” katanya terhadap Middle East Eye.

\\\”Aku mengaplikasikan seluruh tabungan aku dan hanya ingin perang ini berakhir sebelum aku kehabisan uang. Kami memiliki anggaran yang sangat terbatas karena kami tidak tahu kapan berakhirnya (perang).\\\”

Hamid mengatakan, warga Palestina lain dari Gaza yang dia kenal tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan.

\\\”Aku sangat kecewa dengan dunia,\\\” katanya.

Hamid mengatakan, warga Palestina yang melarikan diri paling permulaan mendapat bantuan paling banyak, karena ada rasa solidaritas yang lebih besar atas penderitaan mereka.

Dia menerangkan bahwa para tuan tanah akan mengurangi harga sewa warga Palestina dari Gaza, melainkan, dalam beberapa bulan semenjak perang diawali, antusiasme hal yang demikian telah berkurang.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.
error: Content is protected !!